Arti Kireogi (Angsa Liar) dalam Upacara Jeonanrye

0
25

Tradisi pernikahan Korea Selatan memiliki tradisi yang tidak jauh beda dari tradisi Pernikahan Adat Indonesia. Mereka juga mengenal tradisi mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita untuk meminta izin kepada calon mertua. Upacara ini disebut Jeonanrye.

Mempelai pria akan membawa sepasang angsa liar yang terbuat dari kayu. Dua pasang angsa ini menggambarkan pasangan suami istri baru. Mempelai pria memberikan angsa ini kepada ibu mertuanya. Selain itu mempelai pria akan melakukan penghormatan kepada keluarga mempelai wanita.

Pemilihan Angsa melambangkan beberapa kebajikan dalam pernikahan. Angsa liar dikenal setia dengan menjaga pasangan yang sama seumur hidup. Bahkan jika satu mati, yang lain tidak akan mencari pasangan baru selama sisa hidupnya. Angsa liar memahami hierarki dan ketertiban. Angsa liar memiliki sifat untuk meninggalkan keberadaan mereka ke mana pun mereka pergi atau bisa diibaratkan dengan warisan.

Sekarang angsa digantikan dengan menggunakan kayu. Selanjutnya angsa akan diberikan ke ibu mertua dengan balutan kain berwana-warni. Angsa wanita identik dengan warna merah sedangkan pria identik dengan warna biru. Warna ini digunakan untuk melambangkan gagasan tentang energi yin (wanita, merah) dan yang (pria, biru). Warna merah yang diikatkan di paruh, digunakan sebagai ciri istri harus diam dan mendukung suami.

Selama upacara pernikahan, bebek pernikahan ditempatkan di atas meja. Penempatan angsa ini juga sangat penting, angsa ditempatkan saling berhadapan dan berdampingan yang memiliki arti keharmonisan kedua mempelai. Pengantin wanita, pengantin pria dan keluarga akan mengenakan jubah upacara yang disebut hanbok ke kunbere, upacara tradisional Korea.